page contents

Wednesday, May 30, 2012

Jakmania itu saya bawa ke Si Jalak Harupat!!


Rasanya gatal sudah lama tidak menuangkan sesuatu dalam blog ini, semenjak paket kuota unlimited eks-el dihentikan, menjadi malas rasanya untuk mengupdate laman ini. Walaupun akhirnya dapet sedikit napas bantuan proxi, namun semangat belum jua datang. Padahal Newcastle united finish di peringkat 5 EPL dan lolos EUFA Europe League. “Hanca” donlotan pun belum rampung. Hingga akhirnya hasil pertandingan Persija vs Persib lah yang membangkitkan hasrat untuk menuangkan coretan.
Pertandingan yang digelar 27 Mei 2012 di Stadion Gelora Bung Karno (dahulu Senayan), Jakarta sebenarnya tak saya tonton secara penuh, padahal pertandingan digelar tidak tepat waktu. Saya hanya menonton Babak kedua, itu pun sejak menit 55, Persib sudah unggul 1-0, dan skor akhir 2-2 setelah Maman menggagalkan “kemenangan” Persija, Saya tidak akan mengulas jalan pertandingan, rasanya rekan sudah lebih tau dari saya.



Hasil imbang ini jelas membuat saya senang, karena sudah lama sekali persib bisa meraih angka pada laga tandang melawan Persija belakangan ini. Namun hasil imbang ini ternyata harus dsertai berita kurang enak untuk didengar dan diperbincangkan. 4 Orang tewas karena dikeroyok massa yang mengaku supporter setia Persija, 1 orang teridentifikasi bernama Rangga Cipta Nugraha, seorang bobotoh, member Viking Poltek Pos Bandung. 3 orang lainnya merupakan orang Jabodetabek yang “tidak diakui” sebagai member Jakmania (entah memang bukan member, atau memang bukan pendukung Persija).

Kematian bobotoh PERSIB ini jelas memukul hati nurani, dan menciptakan preseden buruk sepakbola nasional, terutama ketika hubungan supporter PERSIB dan PERSIJA dalam [di-] kondisi [-kan] selalu bersitegang. Permusuhan dan fanatisme berlebih berbuah malapetaka. Bukan kali ini korban supporter ketika Persija bermain terjadi, rekan-rekan bisa bertanya kepada ‘mbah Gugel’ untuk mencari datanya. Namun kematian seorang bobotoh, langsung ataupun tidak, kita semua pun ikut merasa sedih. Tahun lalu pun sempat terjadi kericuhan, namun tidak sampai memakan korban nyawa.

Saya belum mengetahui bagaimana kronologis pasti, alm. Rangga bisa sampai dikeroyok. Info yang berkembang, Rangga bersama temannya duduk di TRIBUN yang salah. Dalam kondisi kedua supporter yang saling berseteru, jelas nimbrung di tribun yang salah, bagaikan “nyanggakeun beuheung teukteukeun” alias “masuk sarang penyamun”. Karena tim kesayangan berhasil mencetak gol, dan ybs tidak bisa menahan emosi, akhirnya mengeluarkan teriakan kegembiraan, yang kemudian menjadi awal malapetaka.

Jika benar demikian kronologisnya, saya jadi teringat ketika 2010, putaran 2 LSI pertandingan PERSIB-Persija di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Jumat 18 Maret 2011. Waktu itu seorang teman, sebut saja namanya X, kenalan di sebuah forum komunitas penggemar klub sepakbola juga, menyatakan hasratnya untuk dapat menonton pertandingan di Bandung, setelah sebelumnya juga dia sempat menonton Persib-Arema di stadion Siliwangi yang berakhir ricuh penonton, namun tak jua menurunkan hasrat untuk tetap datang ke Bandung. Sebenarnya dia punya kenalan yang lebih berpengaruh di kalangan supoorter, karena punya koneksi dengan beberapa jajaran pimpinan supporter, namun karena dia juga disibukkan untuk mengatur massa dan rekannya, dia menyatakan tidak bisa membantu dan menjamin keamanan si X. Akhirnya saya setujui untuk membantu si X agar bisa menonton di Bandung, tentu dengan beberapa kondisi agar kita semua bisa tetap selamat.
Skip skip skip
Pada hari H si X minta dijemput di stasiun Cimahi, setelah makan kita langsung meluncur ke Soreang, dan yang saya ingat saya cuma punya 1 tiket, sedangkan untuk si X belum saya pegang tiketnya, karena saya nitip ke teman-rekan BOKUS yang sudah berangkat terlebih dahulu. Sesaipainya di stadion, ternyata mereka sudah berada di dalam stadion, sedangkan kami tertahan di luar karena tiket belum dipegang. Saya coba untuk menghubungi yang memegang tiket, namun ternyata HP rekan yang dihubungi telah berpindah tangan ke tangan si jahil. Sehingga harus mencari calo yang masih menjual tiket. Beruntung masih ada yang jual dengan margin harga tidak terlalu jauh.

Akhirnya kami berhasil masuk dan duduk di tribun timur sektor IIA berjejer dengan bobotoh lain, si X sengaja tidak mengenakan atribut berbau Jakarta, hanya jaket hitam dengan sedikit garis biru di dada ke pundak. Selama pertandingan saya suruh dia untuk tidak banyak bereaksi jika PERSIB kebobolan (untung dituruti). Jalannya pertandingan sungguh tidak menggembirakan bagi bobotoh, setelah bisa mengejar 1-2 lewat pinalti Matsunaga, namun akhirnya kalah 2-3 setelah Abanda mengurangi defisit gol di jelang akhir laga.

Saya sendiri termasuk yang tidak terlalu mendendam dengan Jakmania, tapi jika saja bobotoh lain yang sedikit berperangai ekstrim tau kalau ada pendukung persija di situ, mungkin saya akan banyak direpotkan dengan kondisi yang tidak bisa dibayangkan. Mungkin rekan-rekan BOKUS sendiri juga ada yang ingin melampiaskan kekalahan dengan paling tidak, “neke” si X. Singkat cerita pertandingan berakhir dan bobotoh kecewa. Di stadion sendiri para bobotoh yang kurang puas sudah mulia menunjukkan gelagat urang sedap dipandang, cacian dan lemaran botol minumna ke lapangan menjadi bubu pertandingan.

Untuk menghindari kemacetan, saya memutuskan untuk berbegas kembali ke Cimahi  agar bisa mengejar travel ke Jakarta secepatnya. Selama perjalanan pulang, alhamdulilah tidak ada aksi yang dirasa berlebihan. Entah di wilayah lain, namun selama perjalanan, kami bertukar cerita mengenai kondisi supporter Jakarta dan Bandung yang berbeda, meskipun sudah tercipta suasana saling berseteru dianatara keduanya. Sepanjang jalan, meski kalah, warga tetap setia menyambut rombongan bobotoh yang akan kembali ke rumah masing-masing. Hanya saja yang sedikit berbeda bila Persib tidak kalah, kerumunan para pengendara “lieur” yang menggeber gas motornya untuk mengungkapkan kegembiraannya atas kemenangan PERSIB (padahal belum tentu ia masuk ke stadion, atau beli paling tidak, tidak beli tiket keriting). Saya bilang inilah Bandung, orang tetap antusias dengan PERSIB, kalah atau menang. PERSIB adalah kebanggaan. Beda dengan Jakarta, kalau bubar pertandingan, orang tidak antusias untuk melihat konvoi Jakmania, malah mungkin mengecam karena kebiasaannya untuk beradu keahlian saling mengejar atau melempar batu, atau bila menang jumlah, main keroyok. Melihat atmosfir sepakbola Bandung, dia malah mengatakan jika ada waktu, rasanya ingin datang kembali melihat PERSIB bertanding untuk menikmati atmosfir sepakbola Bandung.

Akhirnya kita bisa sampai di Cimahi dengan selamat dan X bisa pulang dengan hati riang karena Persija menang, walaupun harus menahan emosi selama pertandingan. Jika hal buruk terjadi mungkin saya akan merasa sangat bersalah karena mengakibatkan sesuatu yang tidak diinginkan pada seorang teman. Tak dapat dibayangkan jika posisi itu dibalik. Apakah saya juga akan selamat seperti dia? Atau bernasib seperti Sodikin yang kena bogem, atau malah seperti Rangga yang berakhir meninggalkan nama?

Mengenai sikap anarkisme supporter, kita sepakat bahwa sesungguhnya mereka itu termakan propaganda media dan jargon permusuhan kedua kubu. Mereka yang anarkis umumnya para ababil yag gampang dihasut karena merasa mereka superrior ketika mereka bersama para koleganya. Permusuhan itu wajar, di negara maju pun rivalitas itu ada dan terpelihara, yang membedakan umumnya itu hanya di dalam pertandingan, untuk kelompok ekstrim, Polisi di sana lebih sigap ketimbang Polisi Indonesia yang lebih disewa untu menonton pertandingan, bukan mengamanan keamanan. Oke, kalah personel, tapi keamanan harus tetap terjaga. Perlu juga kedewasaan supporter, rivalitas itu hanya untuk sampai peluit babak kedua, jangan lebih, terlebih kita bukan bangsa pembunuh, kecuali kalau anda mau menjadi bangsa pembunuh. Kita butuh rasa nyaman datang stadion, bukan ketakutan. 

*ini hanya penggalan pengalaman, penulis tidak punya kompetensi mempengaruhi sikap pembaca. :)

7 comments :

hahn said...

wah keren kang
wanian mawa suporter persija ka stadion.. salut kang..

abi member FDBP said...

Damai harga mati!

Yosep Hendrian said...

tulisan mantap mangs . . .

semoga ga ad lagi korban rivalitas PERSIB vs pers*ja

masbox said...

"Lamun nurutkeun napsu jeung niat jahat mah, hape dicopet + Persib eleh, bisa wae urang culas mang. Tapi naon gunana?" -masbox, bukan nama sebenarnya-

astrayudha said...

@hahn: La Haola we.. da apal barudak mah teu saparah alay
@yosepier : Mudah2an tidak ada korban lain
@abi member : dimana wae kedah aman nya lur?
@masbox: hahaha bisa jadi tah..

Ice - Tx said...

"padahal belum tentu ia masuk ke stadion, atau beli paling tidak, tidak beli tiket keriting"
Nga Quote ah... Leres mang, nu kitu tah nu sok ngalieurkeun teh.. gerang gerung di luar stadion,pas peluit panjang langsung bur ber di jalan, + tiket keriting, abi pernah ngalaman, tiket "Asli" di tangan, tapi ceuk tukang jaga tiket geus penuh.. Eta nu di dalem tiketna timana?? apa PERSIB nyetak tiket Lebih dari kuota stadion? BTW eta orang yg di maksud Mr. O nya ITA?

Marvin said...

Edan lah tulisan na. salut. hahaha